30/01/2009 10:59
Menakjubkan! Itulah kata yang pantas diucapkan ketika tim Sains Sekolah Al-Izhar Pondok labu yang tergabung dalam komunitas Al-Izhar Science Center mengamati terjadinya Gerhana Matahari Cincin pada tanggal 26 Januari 2009 sekitar pukul 16.41 di pantai Anyer - Banten. Sekitar 41 siswa SMP dan SMA Al – Izhar ini serentak bersorak dan bertepuk tangan saat permukaan matahari cincin berwarna merah kekuningan karena permukaan matahari tersebut tertutup bulan dibagian tengahnya. Kejadian tersebut berlangsung hanya beberapa menit saja dan setelah itu tampak normal kembali setelah bulan bergeser meninggalkan permukaannya. Bentuk cincin pada matahari tersebut telah dinanti oleh tim Sains sejak pukul 15.21 saat dimana permukaan bulan mulai tampak menutupi permukaan matahari dari sisi kiri bawahpermukaan matahari. Para tim sains ini menanti dengan harap – harap cemas , karena pada sekitar pukul 16.10 segerombolan awan datang dan menutupi permukaan matahari tersebut, sehingga permukaan matahari tidak dapat diamati meskipun telah menggunakan telekop dan yang tampak hanyalah sinar matahari redup karena tertupu awan. Tim Sains Al-Izhar terlihat mulai lesu . dan sebagian menampakan wajah kecewa akan kejadian tersebut. Akankah kita dapat menyaksikan gerhana matahari cincin ? Jika tidak kapan lagi kita memiliki kesempatan seperti ini ? Pertanyaan – pertanyaan tersebut tampaknya muncul dari dalam hati mereka masing – masing. Teleskop dan kamera genggan yang semula ramai di kelilingi para siswa dan layar monitor televisi yang juga semula ramai dikepung siswa, saat itu menjadi seperti tak berarti dijauhi siswa karena awan masih menutupi permukaan matahari. Namun saat – saat acara penutupan akan digelar , tiba – tiba awan yang menutupi permukaan matahari menyingkir sehingga cahaya matahari tampak kembali melalui permukaannya , hal tersebut dapat terpantau melalui monitor televisi yang memang masih dalam posisi standby. Kecekatan tim humas ini mampu memfokuskan kembali kamera videonya ke arah matahari , dan dalam waktu kurang dari 7 menit cahaya berbentuk cincin tersebut muncul dari permukaan matahari.
Komunitas sains sekolah Al-Izhar pondok labu yang tergabung dalam Al-Izhar Science Center (ASC) , melakukan pengamatan Astronomi yang kedua kalinya setelah pada bulan Agustus 2008 melakukan pengamatan Gerhana Bulan Parsial (GBP) yang diikuti oleh sekitar 100 siswa dari dalam maupun luar sekolah Al-Izhar. Kini pada tanggal 25 Januari 2009 ASC berangkat menuju pantai Anyer untuk melakukan kegiatan Science Camp yang diantara kegiatannya adalah pengamatan Gerhana Matahari Cincin. Suatu even sangat langka yang dapat dilakukan oleh para pencinta sains khususnya Astronomi, setelah sembilan tahun lalu, fenomena itu muncul lagi. Indonesia adalah satu-satunya wilayah daratan yang dapat mengamati peristiwa alam ini. Gerhana matahari cincin (GMC) terjadi karena piringan bulan tidak menutup sepenuhnya piringan matahari, hanya sekitar 92 persen. Karena itu, saat puncak gerhana, matahari terlihat seperti cincin yang memancarkan sinar di langit. Bagian tengah matahari tertutup bulan sehingga tampak gelap. Penampakan seperti cincin bersinar inilah yang membedakan GMC dengan gerhana matahari total (GMT). Saat puncak GMT, seluruh piringan matahari tertutupi secara sempurna oleh piringan bulan. Akibatnya, suasana terang akan berubah gelap untuk beberapa saat. Pada saat jarak matahari-bumi (aphelion) mencapai maksimum sebesar 152,1 juta kilometer, radius piringan matahari berukuran 944 detik busur (1 detik busur = 1/3.600 derajat). Adapun pada jarak terdekat bumi-matahari (perihelion) sebesar 147,1 juta km, radius piringan matahari mencapai 976 detik busur.
Sementara itu, jarak bulan- bumi pada titik terjauhnya (apogee) pada jarak 405.500 km memiliki radius piringan bulan sebesar 882 detik busur. Adapun pada titik terdekatnya antara bulan-bumi sebesar 363.300 km, radius piringan bulan mencapai 1.006 detik busur. Bayang-bayang bulan yang jatuh ke permukaan bumi memiliki dua bagian, yaitu bayangan inti (umbra) dan bayangan tambahan (penumbra). Penduduk bumi yang dilintasi wilayah umbra tidak akan melihat matahari karena seluruh sumber cahayanya ditutupi bulan. Adapun jika berada di daerah yang dilalui penumbra, mereka masih dapat melihat sebagian sinar matahari. Dalam GMC, ujung umbra atau bayang-bayang bulan tidak mencapai permukaan bumi. Hanya perpanjangan umbra (antumbra atau antiumbra) saja yang sampai ke bumi. Daerah yang dilalui antumbra itulah yang akan melihat matahari seperti cincin bercahaya di langit.
Jalur lintasan GMC kali ini bermula di Samudra Atlantik di sebelah barat daya Afrika pada pukul 06.06 UT (universal time) atau 13.06 WIB. Selanjutnya, GMC akan terlihat menelusuri bagian selatan Samudra Hindia, daratan Sumatera bagian selatan, Jawa bagian barat laut, Kalimantan Barat bagian selatan, Kalimantan Tengah bagian utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah bagian utara, dan berakhir di Perairan Mindanao, Filipina, pada pukul 16.52. Lebar jalur bayang-bayang antumbra bulan pada saat puncak gerhana adalah 280,3 km atau sekitar 0,9 persen permukaan bumi. Inilah yang membuat tidak semua daerah dapat menyaksikan GMC. Bahkan, lama fase cincin di setiap daerah yang dilewati antumbra juga berbeda-beda. Seperti halnya ditempat kami mengamati di Villa Ajeng Jl. raya anyer KM141, GMC dapat kami amati sekitar pukul 16.41 selama 7 menit. Daerah yang hanya dilalui penumbra atau bayangan tambahan bulan akan menyaksikan gerhana matahari sebagian (GMS). Hampir seluruh wilayah Indonesia dapat menyaksikan gerhana model ini, kecuali Papua akibat saat gerhana berlangsung, matahari sudah tenggelam. Itulah sebabnya ASC tidak mengamati GMC diwilayah Jakarta karena kemungkinannya hanya mendapatkan Gerhana Matahari Sebagian (GMS).
| « | February 2010 | » | ||||
| Mon | Tue | Wed | Thu | Fri | Sat | Sun |
| 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 |
| 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 |
| 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 |
| 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 |